Rabu, 06 Mei 2015

Bedah Brand : Coffee Time



Entry kali ini gue akan coba bahas tentang Coffee Time. Jadi Coffee Time ini adalah cafe bernuansa retro yang ada di daerah Taman Kopo. Gue sama temen gue sering kesini karena dua hal. Satu tempatnya comfy, dan dua karena deket. Coffee Time menjual makanan dan minuman khas Itali maupun Indonesia dengan range harga 10-40rb. Karena gue sering kesini, maka gue putuskan untuk bahas brand ini. Jadi kita langsung bedah brandnya ya.

1. Nama
Coffee Time, menurut gue nama Coffee Time ini bisa diartikan menjadi 2 macam. Pertama, Coffee Time=It's Time for Coffee atau yang kedua, karena cafe ini bernuansa tua, maka yang dimaksud dengan Coffee Time adalah tempat ngopi dengan konsep "going back in time".

2. Logo
Logo Coffee Time adalah cangkir dengan coffee maker, menunjukkan bahwa produk utama Coffee Time adalah kopi.

3.Slogan
 Dengan slogannya yaitu "The Taste Experience", Coffee Time berupaya untuk mengedepankan rasa dan kualitas dari kopinya. Slogan ini juga sepertinya bertujuan agar orang berminat "mencicipi" taste yang ditawarkan oleh Coffee Time.

Hal yang menurut gue masih harus diperbaiki :

1. Coffee Time sudah memiliki 2 media sosial tapi belum digunakan dengan baik.
Instagram - https://instagram.com/coffee_timecafe/
Twitter - https://twitter.com/cafecoffee_time
Keduanya sudah lama tidak diupdate dan contentnya gue anggap kurang menarik

2. Logo yang digunakan tidak menunjukkan bahwa Coffee Time adalah cafe dengan tema retro. Mungkin sebaiknya Coffee Time merubah logonya sehingga lebih menunjukkan differensiasi yang digunakan.

3.Walaupun Coffee Time ingin mengedepankan minuman dengan tema kopi, tetapi banyak konsumen yang malah tidak memesan kopi. Karena itu Coffee Time seharusnya memberikan edukasi mengapa kopi yang disediakan oleh Coffee Time itu berbeda dengan kopi yang dijual ditempat lain.

Sekian corat-coret gue untuk kali ini. Cheers!

Building Brand Equity


Karena brand equity sangat penting, maka kita harus membangun brand equity sesuai dengan tujuan kita agar dapat mengirimkan pesan yang tepat kepada konsumen kita. Brand equity harus kita kelola karena brand equity termasuk intangible asset. Merk yang memiliki brand equity yang kuat memiliki daya tarik yang tinggi juga untuk konsumen.

Menurut Kevin Lane Keller ada 3 hal yang mendorong pertumbuhan brand equity yaitu brand element, program dan aktivitas marketing, dan brand association. Sekarang gue akan coba bahas satu-persatu

Brand Elements

Untuk meningkatkan brand awareness, kita dapat mendesain brand elements dengan kebutuhan kita agar dapat memfasilitasi brand association yang kuat dan unik. Beberapa brand elements yang dapat kita gunakan adalah nama, logo, slogan, simbol, packaging, dan karakteristik. Untuk mendapatkan brand awareness yang kuat kita harus menggunakan brand elements yang mudah diingat, kompetitif, fleksibel, dapat dipercaya dan mudah dimengerti oleh semua budaya.

Program dan Aktivitas Marketing

Program dan aktivitas marketing dapat membantu kita untuk menfasilitasi peningkatan brand awareness dan juga membantu kita untuk menciptakan brand image yang baik. Program dan aktivitas marketing harus disesuaikan dengan marketing mix yang kita gunakan karena sebaik apa pun brand management yang kita lakukan, produk tetap jadi first frontier untuk brand kita.

Brand Association

Brand asosiasi penting untuk membangun brand equity karena brand asosiasi menciptakan brand image yang positif untuk meningkatkan market share. Selain itu, brand asosiasi juga membantu kita untuk menyampaikan informasi kepada konsumen, menjadi reason-to-buy, jadi differensiasi/positioning dan menjadi dasar untuk extension.

Sekian dulu corat-coret gue untuk entry kali ini cheers!

Minggu, 12 April 2015

5 Disciplines of Brand Building pt 1


Sebelum kita membangun sebuah brand, ada beberapa disiplin atau cara yang harus diperhatikan agar brand kita dapat bersaing di pasar dan akhirnya akan memiliki competitive advantage. Setelah gue baca-baca, ada satu tulisan yang membuat gue tertarik yaitu 5 discipline on branding. Jadi 5 discipline ini akan membantu kita untuk memperkecil gap antara branding yang kita lakukan dan ekspetasi konsumen.

1. Differentiate

 Otak kita dirancang untuk memilah informasi dan kita lebih gampang untuk mencari perbedaan diantara informasi yang ada, so be different! Fokus dapat mendukung kita agar mendapatkan diferensiasi jika digunakan secara tepat.
a. Fokus
Fokus adalah salah satu cara agar produk kita mendapatkan diferensiasi. Untuk menilai apakah kita sudah fokus ada 3 pertanyaan yang harusnya dapat dijawab. Who are you? What do you do? Why does it matter? Jika belum dapat menjawab ini, maka sebuah brand kurang fokus. Salah satu cara perusahaan kehilangan fokusnya adalah brand extension. Jadi jangan sampai kita mencari short-term profit tetapi kehilangan long-term value(fokus).


2. Collaborate
Kenapa kolaborasi? Karena dengan adanya synergy maka 1+1=11 maka dengan adanya kolaborasi value brand kita juga dapat bertambah. Ada 3 model yang digunakan untuk kolaborasi:





3.  Innovate
"Creativity is what gives brands their traction in the marketplace". So, how do you know when your idea is innovative? When it scares the hell out of everybody. Brand yang inovatif butuh nama yang 'stand out'. Ciri-ciri 'stand out' name:
a. Distinctiveness
b. Brevity
c. Appropriateness
d. Easy to spell and pronounce
e. Likeability
f. Extendability
g. Protectability

Selain nama yang unik, inovasi juga dapat dilakukan pada dengan cara membuat icon/avatar dan menggunakan packaging. Tidak jarang sebuah brand menjadi mudah diingat karena packagingnya yang unik. Sekian dulu corat-coret gue kali ini, next entry gue akan melanjutkan tentang Discipline of brand building.

5 Disciplines of Brand Building pt 2


Karena minggu lalu gue sudah membahas sebagian dari 5 disciplines of brand building, jadi entry kali ini gue akan menyelesaikan pembahasan tentang disiplin-disiplin dan apa yang ingin dicapai saat kita menggunakan 5 disiplin ini. Langsung aja ya gue mulai pembahasannya.

1. Validate
Kenapa sih brand kita harus di validasi? Karena validasi mengajak audience kita masuk kedalam proses kreatif. Ada 2 cara untuk melakukan validasi sebuah brand yang biasanya sudah banyak diketahui yaitu focus group dan quantitative study. Tapi kedua metode tersebut tidak terlalu efektif dan memakan banyak waktu dan biaya. Ada beberapa cara yang lebih efesien yaitu:
a. Swap test.
Jika trademark/graphic yang ditukar terlihat lebih baik, maka keduanya tidak optimal.



b. Hand Test
Jika trademark ditutup dan kita tidak dapat mengetahui siapa yang memiliki brand, maka brand voice nya tidak distinctive.

c. Field test
Jika konsumen tidak tahu apa konsep produk kita, maka kita gagal untuk mengkomunikasikan konsep produk kita.
Pada field test, kita dapat mengukur: distinctiveness, relevance, memorability, extendability, dan depth of meaning.

2. Cultivate
Brand merupakan organisme yang hidup da bisnis adalah proses bukan entity. Brand dapat dianggap seperti manusia. Jika manusia dapat mengganti baju tanpa mengganti karakter mereka, maka brand juga bisa. Yang perlu dilakukan 'influence the character of a brand'.




Jadi untuk apa sih kita menerapkan 5 disiplin ini? Tujuannya adalah membuat brand kita menjadi brand yang karismatik. Apa itu charismatic brand? Charismatic brand adalah brand yang dianggap oleh konsumen tidak memiliki substitusi. Berikut adalah brand-brand yang dianggap karismatik.

Selain membuat brand kita karismatik, tujuan kita mempelajari 5 disiplin ini adalah memperkecil gap antara brand kita dengan ekspetasi konsumen. Karena semakin kecil gap antara ekspetasi dan brand kita, maka konsumen akan semakin puas. Kepuasan konsumen menjadi kunci dan akan bersifat loyal.
Sekian dulu corat-coret gue kali ini. Cheers!

Kamis, 09 April 2015

 Bedah Brand : Bistik AA


Kalo yang tinggal di Bandung biasanya sih udah pada tau Bistik Astana Anyar atau yang biasa disebut Bistik AA. Warung bistik ini biasanya buka dari pukul 17.00 dan tutup jika habis. Warung nasi bistik ini juga selalu penuh karena harganya yang murah dan rasanya yang enak. Sampai saat ini warung bistik ini belum memiliki logo. Karena belum memiliki logo atau ciri khusus, Bistik AA juga tidak dapat membuka cabang dan bisnisnya dari dulu tidak berkembang pesat. Karena dasar itu menurut gue Bistik AA ini perlu melakukan rebranding.

Hal yang pertama yang perlu dilakukan Bistik AA menurut gue ada merubah positioning nya. Banyak temen gue yang sebenernya suka dengan masakan yang ditawarkan tapi risih dengan tempatnya. Jadi menurut gue layout warung bistik ini perlu dirubah agar image Bistik AA jadi tempat makan yang nyaman.

Kedua, menurut gue Bistik AA merupakan bisnis yang memiliki potensi besar sehingga dapat dikembangkan. Tentunya jika ingin membuka cabang, Bistik AA perlu membuat standar yang memastikan kelangsungan bisnis cabangnya misalkan berapa banyak nasi setiap porsinya atau berapa berat daging per porsi yang akan diberikan.

Ketiga, menurut gue Bistik AA harusnya membuat semacam banner agar orang-orang tahu bahwa warung bistiknya 'ada' disana. Karena kemungkinan ada beberapa orang yang ingin mencoba bistik ini tetapi tidak tahu tempat pastinya. Banner juga bisa diberikan logo agar lebih catchy/menarik perhatian orang.

Menurut gue hal-hal diatas perlu dilakukan jika Bistik AA ingin mengembangkan bisnisnya atau sekedar menjaga bisnisnya agar tetap berjalan dengan baik. Sekian dulu corat-coret gue kali ini :)


Minggu, 15 Maret 2015

Penerapan the Pyramid

Karena pada entry sebelumnya gue membahas tentang brand pyramid dan bagaimana pentingnya kita menjalin ikatan emosional, maka pada entry kali ini gue akan membahas bagaimana cara menerapkan brand pyramid saat mengembangkan marketing strategy. Penerapannya akan gue bahas berdasarkan tiap tahapannya.

1. Presence and Relevance.

Pada tahapan ini, kita dapat menggunakan marketing mix sebagai landasan dari marketing strategy dan membangun brand awareness dari produk kita.

Jika kita memiliki beberapa kelompok konsumen dengan needs and wants yang berbeda, maka kita harus melakukan segmenting agar kita dapat fokus kepada target pasar yang akan kita layani. Kita juga dapat menggunakan tools lain untuk mengehtahui apa yang sebenarnya konsumen inginkan dari produk/jasa yang kita tawarkan. Tools lain yang dapat kita gunakan adalah Conjoint Analysis. Karena pada 2 tahap ini masih sedikit atau tidak ada ikatan emosional, maka kita harus melakukan Pricing dengan tepat.

2. Performance.
Untuk mencapai tahapan ini, kita harus menunjukkan bahwa produk/jasa yang kita tawarkan lebih baik dari perusahaan pesaing. Untuk melakukan itu, kita harus mengedukasi konsumen dan memberikan informasi yang tepat agar mereka dapat membandingkan produk kita dengan produk pesaing dan tahu mengapa produk kita superior dibanding pesaing. Untuk membantu, kita dapat menggunakan USP(Unique Selling Proposition) Analysis.

3. Advantage and Bonding.
Untuk mencapai tahapan ini, kita harus mengkomunikasikan lebih jauh lagi benefit yang diberikan oleh brand kita. Kita dapat memberikan produk superior (higher quality lower price) tapi biasanya strategi ini membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar. Kita dapat menggunakan cara lain yaitu mengaitkan brand kita dengan satu emosi yang spesifik seperti senang, sedih, adventure dan lain-lain.

Saat konsumen telah merasakan dan mengehtahui bahwa brand kita merepresentasikan suatu emosi tertentu, maka konsumen akan membangun ikatan emosional yang kuat dan mulai menyebarkan word of mouth positif. Pada saat ini, kita dapat melakukan reinforcement pada word of mouth yang disebarkan dengan memberikan reward kepada konsumen yang menyebarkan word of mouth positif tentang produk kita.

Sekian dulu corat-coret gue kali ini tentang penerapan brand pyramid. Cheers!


Brand Pyramid

Semua orang punya ikatan emosional terhadap suatu produk dan ikatan emosional tiap orang berbeda-beda jadi mungkin aja jika kita melihat barang yang sama tapi merasakan hal yang berbeda. Ikatan emosional inilah yang akan gue bahas dengan bantuan Brand Pyramid. Brand Pyramid sendiri dibagi menjadi 5 tahap yang akan gue jelaskan dibawah ini.

1. Presence
Pada tahap ini, konsumen sudah tahu ataupun sudah pernah menggunakan suatu produk/jasa tetapi tidak merasakan ikatan emosional.

2. Relevance
Pada tahap ini, konsumen mulai mempertanyakan apakah produk/jasa yang mereka pakai sudah memenuhi needs and wants mereka. Apakah cost yang mereka keluarkan sesuai dengan benefit yang didapatkan.

3. Performance
Pada tahap ini, konsumen mulai membandingkan suatu merk dengan merk pesaing dan apakah kinerja dari brand tersebut telah sesuai dengan janjinya. Pada tahap ini, konsumen juga mulai membangun asosiasi brand dengan identitas yang spesifik.

4. Advantage
 Pada tahap ini, konsumen mulai membedakan benefit yang didapat dari masing-masing brand dan mulai dibandingkan. Pada tahap ini juga konsumen mulai memiliki ikatan emosional dengan suatu brand.

5. Bonding
Pada tahap ini, konsumen mulai menjalin hubungan dengan sebuah brand. Konsumen yakin bahwa biaya, benefit, dan perfomance dari brand ini sudah sesuai dengan keinginan mereka. Pada tahap ini juga mereka telah membangun ikatan emosional yang kuat dengan brand tersebut dan brand itu sudah menjadi bagian dari self-image mereka. Customer yang berada pada tahapan ini biasanya menjadi vocal advocate dari brand dan mulai menyebar positif word of mouth.

Jika digambarkan, maka bentuk dari tiap tahapannya adalah sebagai berikut:


Jika dilihat, maka pada tahapan Bonding lah customer akan memberikan revenue potential yang paling besar maka dari itu sebaiknya kita membangun ikatan emosional yang kuat dengan konsumen. Sekian dulu corat-coret gue tentang brand pyramid. Cheers!