Jumat, 08 Mei 2015

Digital brand engagement

Sebelum gue mulai pembahasan tentang digital brand engagement, gue akan coba bahas dulu apa itu brand engagement. Brand engagement  adalah proses untuk membangun ikatan emosional antara orang dan sebuah brand. Karena adanya perkembangan di bidang teknologi, brand engagement juga dapat dibangun melalui internet, maka disebut juga digital brand engagement. Lalu pertanyaannya, kenapa sih digital brand engagement itu penting? Karena dengan perkembangan teknologi dan internet, konsumen mendapat lebih banyak pilihan sehingga loyalitas konsumen pada sebuah brand menurun, disinilah peran digital brand engagement, dengan hubungan emosional yang baik antara konsumen dan sebuah brand, maka loyalitas akan tercipta.

Sebelum kita membuat strategi digital brand engagement, ada beberapa yang harus kita ketahui :

People/Consumer Who are they? What are their values? What motivates them? How do they behave?
Location Where are they? Are they just an Observer? Are they a Participant? Or are they Active Contributor?
Influence Reach of conversation? Authority of dialogue and site? Volume and amount of buzz? Sentiment - (positive, negative, neutral)?
Brand Association Are they inquisitive and looking for info? Are they about to commit to the Brand? Are they loyal brand advocates? Are they brand opponents?

Setelah kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kita dapat membuat strategi digital brand engagement yang lebih baik dan lebih akurat. Dibawah ini juga ada pendekatan-pendekatan yang bisa digunakan untuk menciptakan digital brand engagement yang baik.

People/Consumer Create virtual representative consumer groups Understand why they need your brand Outline what aspects of the brand appeal to them Create content that has a value to each group
Location Be present and available in the relevant online areas Be visible and offer free information Provide a platform/mechanism for interaction Engage with them observing the right etiquette
Influence Prioritise the key influences Stimulate inter consumer dialogue Provide status and recognition for influencers Address negative comments by helping
Brand Association Maximise your advocacy into creating interest Encourage inter consumer dialogue to minimise risk of commitment Reward your advocates and people loyal to your brand Reduce brand opponency where possible

Selain fokus kepada digital brand engagement, kita juga tidak boleh merupakan traditional brand engagement karena walaupun perilaku konsumen sudah berubah kearah digital, tetap saja traditional brand engagement memegang peran yang pentin. Sekian dulu corat-coret gue kali ini, cheers!

Kamis, 07 Mei 2015

Bedah Brand : Kedai TEKO




Bedah brand kali ini gue akan membahas tentang Kedai TEKO. Kedai ini berada di Jl. Neglasari No. 4 lumayan deket dari UNPAR. Kedai TEKO ini udah buka  sejak 15 tahun lalu. Untuk jalan ke
Kedai TEKO ini memang tidak terlalu mudah karena ga ada pemandu atau tanda yang menunjukkan arah ke Kedai TEKO ini. Karena kedai ini udah buka sejak lama tetapi banyak yang yang belum tau tempat ini, gue putuskan untuk membahas kedai ini. Langsung aja ya

1. Nama
Menurut saya Kedai TEKO adalah nama yang kreatif karena produk utamanya adalah teh dan kopi maka yang diseduh menggunakan 'teko' atau juga bisa jadi teko=teh dan kopi. Kedai TEKO juga bisa diambil dari nama pemilik Kedai TEKO sendiri yaitu Tetsy Samoko. Karena beberapa alasan diatas sih gue menganggap nama kedai ini sangat kreatif.

2. Lokasi
Menurut gue juga lokasi Kedai TEKO sangat cocok diliat dari jenis minuman yang dijual cocok diminum di tempat dingin.

3. Layout
Layout Kedai TEKO menurut gue juga udah top banget. Comfy dan homey, cocok banget buat nongkrong.

Hal yang menurut gue bisa diperbaiki oleh Kedai TEKO:

1. Logo
Karena sampai sekarang Kedai TEKO belum memiliki logo, maka gue anjurkan Kedai TEKO untuk membuat logo yang mencerminkan brand image yang diinginkan.

2.Rebranding
Kenapa gue anjurin Kedai TEKO untuk melakukan rebranding? Pertama, karena sudah 15 tahun semenjak Kedai TEKO dibuka, masih banyak orang yang tidak tahu dan apa yang dijual oleh Kedai TEKO.

Hanya sedikit masukan yang bisa gue kasih karena gue sendiri belum sempat mampi kesana dan hanya tau dari tulisan di beberapa blog aja dan memang hanya sedikit yang perlu dirubah karena Kedai TEKO sendiri dapat bertahan selama 15 tahun memang tidak mudah. Sekian dulu corat-coret gue kali ini, cheers!

Rabu, 06 Mei 2015

Bedah Brand : Coffee Time



Entry kali ini gue akan coba bahas tentang Coffee Time. Jadi Coffee Time ini adalah cafe bernuansa retro yang ada di daerah Taman Kopo. Gue sama temen gue sering kesini karena dua hal. Satu tempatnya comfy, dan dua karena deket. Coffee Time menjual makanan dan minuman khas Itali maupun Indonesia dengan range harga 10-40rb. Karena gue sering kesini, maka gue putuskan untuk bahas brand ini. Jadi kita langsung bedah brandnya ya.

1. Nama
Coffee Time, menurut gue nama Coffee Time ini bisa diartikan menjadi 2 macam. Pertama, Coffee Time=It's Time for Coffee atau yang kedua, karena cafe ini bernuansa tua, maka yang dimaksud dengan Coffee Time adalah tempat ngopi dengan konsep "going back in time".

2. Logo
Logo Coffee Time adalah cangkir dengan coffee maker, menunjukkan bahwa produk utama Coffee Time adalah kopi.

3.Slogan
 Dengan slogannya yaitu "The Taste Experience", Coffee Time berupaya untuk mengedepankan rasa dan kualitas dari kopinya. Slogan ini juga sepertinya bertujuan agar orang berminat "mencicipi" taste yang ditawarkan oleh Coffee Time.

Hal yang menurut gue masih harus diperbaiki :

1. Coffee Time sudah memiliki 2 media sosial tapi belum digunakan dengan baik.
Instagram - https://instagram.com/coffee_timecafe/
Twitter - https://twitter.com/cafecoffee_time
Keduanya sudah lama tidak diupdate dan contentnya gue anggap kurang menarik

2. Logo yang digunakan tidak menunjukkan bahwa Coffee Time adalah cafe dengan tema retro. Mungkin sebaiknya Coffee Time merubah logonya sehingga lebih menunjukkan differensiasi yang digunakan.

3.Walaupun Coffee Time ingin mengedepankan minuman dengan tema kopi, tetapi banyak konsumen yang malah tidak memesan kopi. Karena itu Coffee Time seharusnya memberikan edukasi mengapa kopi yang disediakan oleh Coffee Time itu berbeda dengan kopi yang dijual ditempat lain.

Sekian corat-coret gue untuk kali ini. Cheers!

Building Brand Equity


Karena brand equity sangat penting, maka kita harus membangun brand equity sesuai dengan tujuan kita agar dapat mengirimkan pesan yang tepat kepada konsumen kita. Brand equity harus kita kelola karena brand equity termasuk intangible asset. Merk yang memiliki brand equity yang kuat memiliki daya tarik yang tinggi juga untuk konsumen.

Menurut Kevin Lane Keller ada 3 hal yang mendorong pertumbuhan brand equity yaitu brand element, program dan aktivitas marketing, dan brand association. Sekarang gue akan coba bahas satu-persatu

Brand Elements

Untuk meningkatkan brand awareness, kita dapat mendesain brand elements dengan kebutuhan kita agar dapat memfasilitasi brand association yang kuat dan unik. Beberapa brand elements yang dapat kita gunakan adalah nama, logo, slogan, simbol, packaging, dan karakteristik. Untuk mendapatkan brand awareness yang kuat kita harus menggunakan brand elements yang mudah diingat, kompetitif, fleksibel, dapat dipercaya dan mudah dimengerti oleh semua budaya.

Program dan Aktivitas Marketing

Program dan aktivitas marketing dapat membantu kita untuk menfasilitasi peningkatan brand awareness dan juga membantu kita untuk menciptakan brand image yang baik. Program dan aktivitas marketing harus disesuaikan dengan marketing mix yang kita gunakan karena sebaik apa pun brand management yang kita lakukan, produk tetap jadi first frontier untuk brand kita.

Brand Association

Brand asosiasi penting untuk membangun brand equity karena brand asosiasi menciptakan brand image yang positif untuk meningkatkan market share. Selain itu, brand asosiasi juga membantu kita untuk menyampaikan informasi kepada konsumen, menjadi reason-to-buy, jadi differensiasi/positioning dan menjadi dasar untuk extension.

Sekian dulu corat-coret gue untuk entry kali ini cheers!

Minggu, 12 April 2015

5 Disciplines of Brand Building pt 1


Sebelum kita membangun sebuah brand, ada beberapa disiplin atau cara yang harus diperhatikan agar brand kita dapat bersaing di pasar dan akhirnya akan memiliki competitive advantage. Setelah gue baca-baca, ada satu tulisan yang membuat gue tertarik yaitu 5 discipline on branding. Jadi 5 discipline ini akan membantu kita untuk memperkecil gap antara branding yang kita lakukan dan ekspetasi konsumen.

1. Differentiate

 Otak kita dirancang untuk memilah informasi dan kita lebih gampang untuk mencari perbedaan diantara informasi yang ada, so be different! Fokus dapat mendukung kita agar mendapatkan diferensiasi jika digunakan secara tepat.
a. Fokus
Fokus adalah salah satu cara agar produk kita mendapatkan diferensiasi. Untuk menilai apakah kita sudah fokus ada 3 pertanyaan yang harusnya dapat dijawab. Who are you? What do you do? Why does it matter? Jika belum dapat menjawab ini, maka sebuah brand kurang fokus. Salah satu cara perusahaan kehilangan fokusnya adalah brand extension. Jadi jangan sampai kita mencari short-term profit tetapi kehilangan long-term value(fokus).


2. Collaborate
Kenapa kolaborasi? Karena dengan adanya synergy maka 1+1=11 maka dengan adanya kolaborasi value brand kita juga dapat bertambah. Ada 3 model yang digunakan untuk kolaborasi:





3.  Innovate
"Creativity is what gives brands their traction in the marketplace". So, how do you know when your idea is innovative? When it scares the hell out of everybody. Brand yang inovatif butuh nama yang 'stand out'. Ciri-ciri 'stand out' name:
a. Distinctiveness
b. Brevity
c. Appropriateness
d. Easy to spell and pronounce
e. Likeability
f. Extendability
g. Protectability

Selain nama yang unik, inovasi juga dapat dilakukan pada dengan cara membuat icon/avatar dan menggunakan packaging. Tidak jarang sebuah brand menjadi mudah diingat karena packagingnya yang unik. Sekian dulu corat-coret gue kali ini, next entry gue akan melanjutkan tentang Discipline of brand building.

5 Disciplines of Brand Building pt 2


Karena minggu lalu gue sudah membahas sebagian dari 5 disciplines of brand building, jadi entry kali ini gue akan menyelesaikan pembahasan tentang disiplin-disiplin dan apa yang ingin dicapai saat kita menggunakan 5 disiplin ini. Langsung aja ya gue mulai pembahasannya.

1. Validate
Kenapa sih brand kita harus di validasi? Karena validasi mengajak audience kita masuk kedalam proses kreatif. Ada 2 cara untuk melakukan validasi sebuah brand yang biasanya sudah banyak diketahui yaitu focus group dan quantitative study. Tapi kedua metode tersebut tidak terlalu efektif dan memakan banyak waktu dan biaya. Ada beberapa cara yang lebih efesien yaitu:
a. Swap test.
Jika trademark/graphic yang ditukar terlihat lebih baik, maka keduanya tidak optimal.



b. Hand Test
Jika trademark ditutup dan kita tidak dapat mengetahui siapa yang memiliki brand, maka brand voice nya tidak distinctive.

c. Field test
Jika konsumen tidak tahu apa konsep produk kita, maka kita gagal untuk mengkomunikasikan konsep produk kita.
Pada field test, kita dapat mengukur: distinctiveness, relevance, memorability, extendability, dan depth of meaning.

2. Cultivate
Brand merupakan organisme yang hidup da bisnis adalah proses bukan entity. Brand dapat dianggap seperti manusia. Jika manusia dapat mengganti baju tanpa mengganti karakter mereka, maka brand juga bisa. Yang perlu dilakukan 'influence the character of a brand'.




Jadi untuk apa sih kita menerapkan 5 disiplin ini? Tujuannya adalah membuat brand kita menjadi brand yang karismatik. Apa itu charismatic brand? Charismatic brand adalah brand yang dianggap oleh konsumen tidak memiliki substitusi. Berikut adalah brand-brand yang dianggap karismatik.

Selain membuat brand kita karismatik, tujuan kita mempelajari 5 disiplin ini adalah memperkecil gap antara brand kita dengan ekspetasi konsumen. Karena semakin kecil gap antara ekspetasi dan brand kita, maka konsumen akan semakin puas. Kepuasan konsumen menjadi kunci dan akan bersifat loyal.
Sekian dulu corat-coret gue kali ini. Cheers!

Kamis, 09 April 2015

 Bedah Brand : Bistik AA


Kalo yang tinggal di Bandung biasanya sih udah pada tau Bistik Astana Anyar atau yang biasa disebut Bistik AA. Warung bistik ini biasanya buka dari pukul 17.00 dan tutup jika habis. Warung nasi bistik ini juga selalu penuh karena harganya yang murah dan rasanya yang enak. Sampai saat ini warung bistik ini belum memiliki logo. Karena belum memiliki logo atau ciri khusus, Bistik AA juga tidak dapat membuka cabang dan bisnisnya dari dulu tidak berkembang pesat. Karena dasar itu menurut gue Bistik AA ini perlu melakukan rebranding.

Hal yang pertama yang perlu dilakukan Bistik AA menurut gue ada merubah positioning nya. Banyak temen gue yang sebenernya suka dengan masakan yang ditawarkan tapi risih dengan tempatnya. Jadi menurut gue layout warung bistik ini perlu dirubah agar image Bistik AA jadi tempat makan yang nyaman.

Kedua, menurut gue Bistik AA merupakan bisnis yang memiliki potensi besar sehingga dapat dikembangkan. Tentunya jika ingin membuka cabang, Bistik AA perlu membuat standar yang memastikan kelangsungan bisnis cabangnya misalkan berapa banyak nasi setiap porsinya atau berapa berat daging per porsi yang akan diberikan.

Ketiga, menurut gue Bistik AA harusnya membuat semacam banner agar orang-orang tahu bahwa warung bistiknya 'ada' disana. Karena kemungkinan ada beberapa orang yang ingin mencoba bistik ini tetapi tidak tahu tempat pastinya. Banner juga bisa diberikan logo agar lebih catchy/menarik perhatian orang.

Menurut gue hal-hal diatas perlu dilakukan jika Bistik AA ingin mengembangkan bisnisnya atau sekedar menjaga bisnisnya agar tetap berjalan dengan baik. Sekian dulu corat-coret gue kali ini :)